01/12/15

KARANGAN

Hy guys.....
Sahabat pembaca yang budiman,

Masih pada inget nda pelajaran Bahasa Indonesia ??

Yah, pelajaran yang paling nomor sekian dalam kamus otakku. Bapak/ Ibu guru mengajar bagaimana membuat tulisan, karangan, cerita, dan lain-lain. Dari semua itu, tiada yang aku pahami sejak pertama kali mengenal Bahasa Indonesia sampai duduk di bangku SMA tepatnya di SMK Al-Munawwarah Cilacap. Saat itu baru satu hal yang aku pahami tentang tulis-menulis, yaitu ternyata membuat tulisan itu dimudahkan dengan cara membuat kerangkanya terlebih dahulu. Kerangka karangan dibuat untuk memudahkan penulis. Untuk mencegah penulisan berulang suatu hal. Itulah satu materi yang dari bangku sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas dapat aku mengerti dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Untuk pertama kali juga aku dituntut oleh sang guru, untuk membaca buku novel. Saat itu aku membaca buku novel berjudul Laskar Pelangi.

DEMOKRASI

Sejarahnya, Indonesia menganut sistem demokrasi adalah pertama demokrasi pancasila, selanjutnya berubah menjadi demokrasi parlementer, sempat bergeser menjadi demokrasi terpimpin, kembali lagi ke demokrasi pancasila dengan 2 (dua) zaman, yaitu zaman orde baru dan zaman reformasi.

Demokrasi sendiri berasal dari bahasa yunani yang kalo arti secara istilahnya adalah kekuasaan/ kedaulatan suatu negara/kepemerintahan ada pada rakyat.

Demokrasi bisa dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yakni demokrasi langsung dan tidak langsung.

Pertama demokrasi langsung.
Dalam pemilihan Umum/ Kepala Daerah (Pemilu/kada) diselenggarakan dengan prinsip demokrasi langsung/ pemilihan langsung.

Kedua adalah demokrasi tidak langsung.
Demokrasi tidak langsung dapat dilihat dari sisi implementasi sistem kepemerintahan dalam mengambil keputusan/kebijakan dan membuat peraturan/undang-undang. Yakni dilakukan oleh badan/lembaga perwakilan rakyat seperti :

Dewan Rerwakilan Rakyat (DPR), ada DPR RI, DPRD I dan DPRD II juga DPD serta MPR
dalam fungsinya mewakili/aspirasi rakyat dalam membuat peraturan/undang-undang [lembaga legislatif]

selanjutnya ada [lembaga eksekutif] seperti Presiden (sebagai Kepala negara sekaligus kepala pemerintahan) Gubernur/Walikota, Bupati/Kota, Camat, Lurah/Kades, dan sampai pada tingkat terendah RT (Rukun Tetangga)
dalam fungsinya menjalankan peraturan pemerintah

terakhir ada [lembaga yudikatif] seperti Hakim, Jaksa, dalam lembaganya yaitu Pengadilan Negeri (PN) berada di Kabupaten, Pengadilan Tinggi Negeri (PTN) berada di Provinsi, Mahkamah Konstitusi (MK) berada di Ibukota

Demokrasi tidak langsung juga tampat pada falsafah hidup bangsa Indonesia pada sila ke-4 yang berbunyi "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan."

Pendapat lain juga mengatakan salah satu ciri diterapkannya demokrasi tidak langsung adal;ah diselenggarakannya Pemilihan Umum.

Pembaca semua juga seyogyanya mengetahui bahwa contoh dari penerapan demokrasi tidak langsung yaitu tentu pada negara yang menganut sistem kerajaan seperti Saudi Arabia, Brunei Darussalam, dan lain-lain.



30/11/15

FAEDAH ATAU MANFAAT ATAU KEBAIKAN DALAM PUASA



MEMPERINGATI HARI HIV-AIDS SEDUNIA (1 DESEMBER 2015)

ORANG DENGAN HIV-AIDS (ODHA) BUKAN DIJAUHI..... MEREKA ADALAH SAUDARA KITA YANG MUSTINYA KITA MENJADI TEMAN DAN SAHABAT BAGI MEREKA DI SAAT MEREKA MENDAPAT COBAAN/UJIAN DENGAN MENDAPATI HIV-AIDS PADA DIRI MEREKA

HIV-AIDS TIDAK MENULAR KECUALI MELALUI MEDIA :
1. KONTAK DARAH (MLL SUNTIK, DLL)
2. CAIRAN REPRODUKSI (HUBUNGAN SUAMI-ISTRI, DLL)



10 Faedah Puasa :
  1. Njogo (penulis) Bening atine lan terus peningale mata atine (warek mara’ke bodo lan mice’aken ati)
  2. Nipisaken regete ati lan dadi mbersihaken ati (warek ora bisa ladz-dzah dzikir maring Allah lan ora bisa empuk atine yokui balik athos)
  3. Njogo (penulis) Ina lan andhap ashor lan ngilangaken takabur (chukule takabur saking warek wetenge)
  4. Njogo (penulis) Ora lali maring bala’ne Allah lan siksane Allah (wong warek iku lali ing wongkang keluwen lan lali luwene lan marakne lali ing siksane Allah)
  5. Ngilangaken kepengine maksiyat kabeh (chukule sekehe maksiyat iku saking kebeke weteng)
  6. Nolak turu lan ngelanggengake melek (wongkang akeh mangane... akeh ngumbene, akeh ngumbene... akeh turune, akeh turune.... ilange umur kang faedah/ lan akeh turu uga njogo (tetep) bodo atine lan dedel pengajiane lan atos atine)
  7. Njogo (penulis) gampang nemen-nemeni ngibadah (akehe mangan nyegah ngakeh-ngakehi ngibadah kerono ketungkul ngeladeni karepe wetheng)
  8. Njogo (penulis) warase badan lan nolak lelarane badan (sebab lara sekabehe iku saking akehe mangan-ngombe)
  9. Njogo (penulis) nyithiaken belanja (wong sing wus nyarataken mangan sithik, iku cukup kelawan artho sithik)
  10. Njogo (penulis) kongang gawe sedekah lan milihaken wong liya tinggal awake dewek (wong kang ngakeh-ngakehaken mangan kui ora kongang milihaken wong liya kerono kuwatir awake dewek)


Alkisah Rasulullah SAW ketika beliau makan di pagi hari, maka sore harinya beliau tidak makan. Begitu juga sebaliknya, ketika beliau makan sore/malam hari... paginya beliau tidak makan (beliau Rasulullah SAW makan stu hari sekali).

sebagian materi diambil dari kitab munjiyat 
بخط حامدي عبد الحليم دماك جاوا تعاه